Sabtu, 08 Desember 2012

Gaya Hidup Remaja


Buah Dada, Pusar, Dan Paha
Bentuk Semangat Keterbukaan Wanita Moderen
  
            Realitas kehidupan saat ini menampakkan sosok yang begitu mengerikan, mengharukan, dan menakutkan. Sebuah sosok yang begitu nampak Hiper bagi orang-orang yang berada di pihak yang cinta akan moralitas ketimuran. Tapi sosok yang hiper ini dalam sudut pandang semangat keterbukaan dianggap sebagai suatu hal yang wajar-wajar saja atau malah sosok ini dipandang niscaya. Sosok yang hiper ini sudah terlanjur menjadi wacana yang dominan dalam kehidupan keseharian kita, yang sudah terbentuk sedemikian rupa oleh beberapa kekuasaan yang mendukungnya. Menurut Yasraf Amir Piliang ada tiga logika kekusaan yang saling bertautan mendukung wacana keterbukaan ini menjadi dominan dalam masyarakat, kekuasaan itu adalah kekuasaan produsen, kekuasaan modal, Dan kekuasaan media massa.
            Zaman keterbukaan merupakan suatu hal yang dicita-citakan oleh umat manusia manapun, karena dengan semangat keterbukaan ini manusia merasa bebas, merdeka, dan mendapatkan otonominya dalam menafsirkan, menjalani, serta mengevaluasi kehidupannya yang tentunya bersesuaian dengan jaman dan konteks sosial dimana mereka berada. Semangat keterbukaan merupakan suatu jaman yang menandakan bahwa kesadaran umat manusia dalam kesejatiannya akan mendapatkan tempat dalam kehidupan. Zaman ini tidak lagi ditandai dengan semangat budaya Patriarki, yang ditandai dengan model penaklukan terhadap suatu entitas di luar dari kediriannya, tapi zaman ini juga diwarnai dengan budaya Matriarki, yang ditandai dengan gaya kelembutan yang khas. Kehidupan ini ditandai dengan perpaduan yang saling melengkapi tanpa melepaskan identitas kedirian masing-masing. Wanita di zaman ini juga mendapatkan tempat untuk menyampaikan dan menyatakan eksistensi dirinya dengan segala bentuk rasinoalitas yang dimilikinya. Semangat Kartiniisme merebak bagaikan bunga Sakura di musim semi, wanita mendapatkan tempat dimana-mana, mulai dari tingkat atas seperti jabatan Presiden sampai di tingkat paling bawah sekalipun seperti menjadi buruh kasar di Proyek-proyek jalan. Dulu, kalau seorang lelaki mempertanyakan bagaiman sosok wanita idamannya kepada seorang teman lelakinya, maka yang akan terlintas dalam pikirannya adalah sosok wanita yang mampu mengurusi dengan baik wilayah-wilayah domestik (dapur, sumur, dan kasur). Tapi sekarang sangatlah susah mencari wanita idaman yang seperti itu. Wanita sekarang tidak lagi relevan untuk mengurusi wilayah-wilayah domestik saja tapi seorang wanita haruslah berada di wilayah publik pula.
            Semangat emansipasi yang didukung oleh gerakan-gerakan feminisme dan gerakan –gerakan gender membawa wanita kederajat yang tinggi. Wanita tidak bisa lagi dipandang sebagai alibi kaum lelaki, wanita tidak cocok lagi dilihat sebagai sosok yang lemah yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Wanita tidak lagi harus tinggal di rumah sebagai perabot atau sebagai alat pajangan, wanita telah mendapatkan tempat di lembaga-lembaga pendidikan, di kantor-kantor, di Televisi, di Bioskop, apalagi di Mall, jelasnya adalah wanita ada dimana-mana.
            Zaman memang berubah, tapi apakah memang betul-betul berubah, jangan-jangan perubahan itu hanya menyangkut wilayah permukaan saja tapi tidak menyentuh hal yang subtantif sifatnya. Wanita memang menempatkan dirinya dimana-mana, eksis dalam segala bidang kehidupan, bebas menyuarakan suara hatinya, lantang dalam gerak langkahnya, dan berani dalam penampilan berpakaiannya, tapi apakah betul segala kemerdekaan, kebebasan, dan otonomi yang dimilikinya melaju diatas rel-rel kesadarannya.
            Di kehidupan sebelum kita di dunia, seekor ular membujuk Hawa untuk memakan buah Khuldi, Hawapun tergoda.Hawa membujuk Adam untuk memetik buah Khuldi yang disinyalir oleh banyak orang sebagai buah pengetahuan, nampak jelas bahwa dengan inisiatif Hawalah yang membawa Adam dan keturunannya kelak mendapatkan pengetahuan akan benar dan salah, baik buruknya sesuatu, telanjang dan kemaluannya. Adam mendapatkan kemanusiaannya. Umat manusia wajiblah untuk berterimakasih kepada ular Dan Hawa, karena melaluinya Adam dan keturunannya menjadi manusia seutuhnya. Cerita itu adalah suatu hal yang dianggap mitos oleh sebagian orang, tapi melalui cerita itu, kita dapat memperbandingkannya dengan alur cerita kehidupan sekarang. Ideologi Kapitalisme sebagai ularnya, wanita sebagai Hawanya, dan lelaki adalah Adamnya. Tapi kehidupan sekarang tidak mencerminkan subtansi dari cerita tersebut. Kapitalisme memang betul membujuk wanita dan lelaki untuk larut dalam logikanya, tapi sayangnya arah pembujukan itu tidak mengarah lagi kepada nilai-nilai kemanusiaan. Manusia baik wanita maupun lelaki tidak lagi bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah, telanjang dan kemaluan, semuanya bergerak pada keinginan logika Kapitalisme.
            Kapitalisme dengan mengusung kategori kemoderenan menjadikan manusia larut dalam ketidaksadarannya, ia dengan ganasnya merubah tatanan keinginan menjadi tatanan kebutuhan. Wanita dengan pakaian yang tertutup yang berada di Twenty One atau di Mall akan dianggap primitif, karena budaya Twenty One Dan Mall menuntut seorang wanita untuk berpakaian sedikit terbuka, Buah dada harus menonjol dengan baju ketat, pusar harus kelihatan, dan paha putihpun harus sedikit dipamerkan. Seorang lelaki tidak lagi harus bersusah payah untuk mengintip disela-sela jendela, dibalik tirai, atau di atas loteng kamar wanita, cukuplah dia ke Twenty One, Mall, SMU-SMU, atau dunia Kampus pastilah dia akan melihat paha putih, buah dada, dan pusar yang diinginkannya.
            Sederetan wanita dengan tubuh yang semampai, baju ketat tanpa lengan, dan rok pendek, atau celana ketat dengan sedikit pengetahuan marketing akan lebih mendapatkan tempat dikehidupan dewasa ini dibanding dengan wanita yang memilih berpakaian tertutup dengan tidak menonjolkan tonjolan tubuhnya sedikitpun, bertubuh bongsor dengan segudang pengetahuan filosofis yang dimiliki. Kehidupan dewasa ini lebih berpihak pada keterbukaan tubuh wanita dibanding dengan keterbukaan pengetahuan yang dimiliki wanita yang bertubuh bongsor dengan pakain tertutupnya. Zaman ini, kerja tidak ditandai lagi dengan kerja fisik, tapi kerja ditandai dengan kerja image, dan wanita dengan buah dada, pusar, dan paha putihlah sebagai imagenya (Fukuyama). Kenyataan ini, dengan jelas dapat disaksikan tidak hanya di dunia virtual saja tapi kita bisa melihatnya di Mall-mall, wanita dengan sedikit berani dan agak tersipu mengeksploitasi dirinya sendiri, kasihan!    
Kehidupan manusia ditandai dengan kesadarannya dalam menentukan pilihan hidupnya. Dengan kesadarannya manusia dikatakan berbudaya yang diperhadapkan dengan sikap alamiahnya. Tapi kehidupan sekarang tidak memberikan pilihan hidup, ia bergerak secara linear saja, konsekuensinya adalah manusia hanya mengadopsi realitas yang ada diluar dirinya. Segala bentuk kehidupan yang lagi mapan dilumatnya tanpa filteralisasi lagi, takut akan ungkapan kuno, primitif, atau ketinggalan zaman yang akan disandangnya. Keinginan untuk memakai baju ketat, celana ketat, rok pendek, telepon selular, mobil mewah, Putauw, dan segala bentuk citraan lainnya menjadi kebutuhan dikalangan muda sekarang. Menurut Lacan keinginan akan pencitraan itu yang kemudian menjadi kebutuhan diproduksi oleh mesin-mesin hasrat manusia, lalu kalau memang betul mesin hasrat manusialah yang menentukan kehidupannya dimanakah letak kesadaran rasionalitasnya yang dijunjung tinggi dizaman pencerahan dulu.
            Di Zaman pencerahan manusia mendapatkan tempat lagi setelah sekian lama terbelenggu oleh kungkungan peradaban yang ditandai dengan sifat Kosmosentris dan Teosentrisnya. Katanya, pada peradaban tersebut manusia hanya sebagai pengikut, penonton, dan hamba sahaya oleh alam dan Tuhan, manusia hanya bisa manggut dan mengiyakan apa kata alam dan Tuhan, apa yang diinginkan oleh alam, manusia haruslah mengikuti, kalau tidak manusia akan tersingkir dengan sendirinya. Tapi peradaban itupun runtuh seiring dengan kesadaran rasionalitas manusia yang menampakkan nyalinya, jadilah manusia yang menentukan nasib kehidupannya sendiri. Roda kehidupan terus berputar sampai pada suatu titik dimana kita hidup sekarang. Kehidupan yang tadinya ditandai dengan semangat rasionalitas seolah memutar haluan lagi, kehidupan manusia kembali ditentukan oleh realitas yang berada di luar dirinya. Kehidupan ini tidak lagi dibentuk oleh kesadaran rasionalitasnya tetapi oleh kehendak naluriahnya, Scopenhouwer seorang filosof skeptis mengatakan bahwa kehidupan ini tidaklah dibentuk oleh kesadaran manusia melainkan oleh kehendak butanya akan sesuatu hal di luar dirinya. Manusia berada pada tingkat alamiahnya lagi, ia bagaikan seorang anak kecil meniru, latah, menjadi Xerox, menjadi mimesis.
            Wanita yang berada di Mall sama saja wanita yang bergelut di dunia kampus baik dalam segi pengetahuaannya apalagi dalam gaya berbusananya, yang dipentingkan adalah bagaimana dia bisa disanjung atau menjadi bahan gosip oleh lelaki, bagaimana ia bisa menjadi artis idolanya, atau bagaimana ia bisa bisa memakai produk-produk baru yang tentunya berkelas dan bermerek. Sangat jarang wanita yang berpenampilan ala Britney atau Madonna yang berpengetahuan cemerlang, yang memikirkan tentang dehumanisasi yang terjadi sekarang, malah mereka menjadi pengusung dehumanisasi itu sendiri, sangat jarang wanita memikirkan eksploitasi kediriannya, malah mereka menyambutnya dengan suka cita yang luar biasa. Apakah dengan menggunakan busana yang menonjolkan buah dada, dengan tampilan pusar dan lengan putih, serta pinggul yang montok dan paha putih adalah bentuk atau identitas yang menampilkan eksisten dirinya, atau apakah keterbukaan busana itu merupakan cita-cita yang diinginkan oleh Hawa atau Kartini dulu, Semoga!
            Kehidupan zaman ini memang menuntut buah dada, pusar, dan paha putih. Kita harus menyadari itu meskipun agak sedikit terpaksa. Wanita memang terpaksa menerima itu sebagai tuntutan zaman kalau tidak, enyah kau dari kehidupan ini! kata seorang gadis kepadaku. Harapan kita semoga wanita menyadari dan memaknai kehidupannya dengan semangat kesadaran rasionalitasnya, meskipun itu hanya dalam pikirannya. Kamu harus adil (bebas) sejak dari pikiranmu, latihlah terus menerus hingga ia membekas dalam prilakumu (Pramudya Ananta Toer).                

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar