Tampilkan postingan dengan label Suku Di Daerah Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suku Di Daerah Bima. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2016

Penobatan Jenateke XVII atau raja muda ke-17 Kesultanan Bima

Muhammad Putera Ferryandi, anak mendiang almarhum Sultan ke-XVI Kesultanan Bima, H. Ferry Zulkarnain ST dinobatkan sebagai Jenateke XVII atau raja muda ke-17 Kesultanan Bima. Penobatan berlangsung meriah di Istana Kerajaan Bima/Asi Mbojo Minggu pagi (18/09/2016) disaksikan ribuan warga dan undangan.
Prosesi penobatan diawali beberapa pertunjukan budaya pra acara seperti tarian tradisonal gantao, tarian lopi penge, hadra, sere dan tarian bura bongi monca. Ritual tersebut merupakan tahapan yang harus dijalani oleh seorang calon raja Kesultanan Bima.

Dalam perjalan menuju istana, calon Jenateke diarak dengan menunggangi kuda jantan. Perjalanan tersebut dikawal pasukan perang bersenjata. Rombongan diiringi atraksi tarian bura bongi monca hingga menuju istana. Lantunan alunan alat musik tradisional khas Bima menambah sakral prosesi tersebut.

Lebih dari seribu tamu undangan dan masyarakat yang memadati pelataran istana terlihat berbondong-bondong menyaksikan acara. Menariknya, mereka mengabadikan momen langka itu dengan mengambil foto dari kejauhan. Bahkan karena takut ketinggalan, ada yang mengambil dari jarak dekat sehingga sedikit menghabat perjalanan calon Jenateke. Beberapa aparat Polisi Pamong Praja diterjunkan membuat pagar batas untuk mengamankan jalur yang dilalui Putrah Mahkota.

Setelah sampai di beranda istana calon Jenateke duduk ditempat penobatan. Selanjutnya disusul acara pengantaran mahkota kerajaan dan keris tatarapa ke dalam istana.

Sebelum dinobatkan calon Jenateke menjalani ritual penobatan seperti calon raja sebelumnya, yakni, Mihu atau peryataan kesiapan penobatan, dialog dan nasihat kepada calon Jenateke oleh pejabat nenti mone Dara.

Acara kemudian dilanjutkan pemasangan mahkota dan pemberian keris tatarapa. Prosesi tersebut dilakukan oleh Ketua Majelis Adat Bima, DR. Siti Maryam Salahuddin. Setelah itu didirangkaikan dengan prosesi atraksi makka, ka-nde, buja kadanda, mpa’a sampari dan diakhiri tari klasik lenggo.

Sedikitnya ada 30 tamu istimewa yang hadir dalam acara penobatan. Diantaranya, sultan Mahmud Badaruddin, sultan Palembang Darussalam, Ratu Petunam Tanah Rata Kokoda Papua Barat, Kesultanan Bulungan Kalimantan, Raja Gowa, Pakualam Yogyakarta, Pura Agung Singaraja Buleleng Bali, Anak Agung Wedakarma Istana Tampak Siring, Lalu Putrie MPd, Lalu Satria Wangsa, Dewan Adat Nasional. Kesultanan Dompu, susuhunan Kanjeng Wirabhumi dan Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.

Hadir sejumlah tokoh Nusa Tenggara Barat (NTB) seperti mantan Gubernur NTB Drs H. HarunAl-Rasyid, mantan Danrem 162 Wirabhakti, Kolonel Lalu Rudy Irham Srigede, ST, M.Si,  mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, DR. Hamdan Zoelva, Rektor Universitas Padjajaran Bandung dan ketua DPP Partai Bulan Bintang.

Usai penobatan, Jenateke melambaikan tangan pada para tamu dan masyarakat sebagai tanda kebijaksanaan seorang raja. Setelah itu, setiap tamu istimewa diberi kesempatan untuk menyerahkan cendera mata berupa benda-benda pusaka dari kerajaan mereka. Setelah itu kemudian diakhiri dengan foto bersama. (ID)

Sumber : Berita11.com

Upacara Adat Menjelang Pernikahan di Bima NTB

Dalam bahasa Mbojo, upacara adat disebut “Rawi Rasa” Rawi Rasa berarti semua kegiatan yang dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh masyarakat. Rawi rasa terdiri dan dua jenis kegiatan, yaitu rawi mori dan rawi made.  Yang dimaksud dengan rawi mori ialah kegiatan yang berhubungan dengan upacara kehamilan, kelahiran, khitanan dan pernikahan. Sedang rawi made ialah upacara yang berhubungan dengan kematian. Khusus bagi rawi made dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sehingga tidak ada upacara adat yang dilakukan pada rawi made.
Yang akan kita kupas sekarang, ialah upacara adat pada rawi mori. Mulai dan upacara kehamilan sampai upacara pernikahan.  Karena panjangnya tulisan maka saya akan menyajikannya dalam beberapa bagian secara berurutan. Semoga sajian dari Portal KJS ini bisa menyegarkan kembali memori pembaca mengenai kekayaan budaya Mbojo yang semakin ditinggalkan ol
eh masyarakatnya.

Upacara nggana ro nggoa (Upacara kehamilan dan kelahiran Masyarakat Bima)

Yang dimaksud dengan upacara nggana ro nggoa ialah rangkaian upacara adat yang dimulai dan upacara “Salama Loko” sampai dengan upacara ”dore ro boru”.

1. Upacara salama loko.

Upacara Salama Loko disebut juga dengan Kiri Loko dilakukan ketika kandungan seorang ibu berumur tujuh bulan. Upacara ini hanya dilakukan bagi seorang ibu yang pertama kali mengandung. Jalannya upacara dihadiri oleh kaum ibu dan dipimpin oleh sando nggana (dukun beranak) yang dibantu oleh enam orang tua adat wanita.
Upacara akan dimulai pada saat maci oi ndeu (waktu yang tepat untuk mandi) di sekitar jam 07.00. Sando nggana menggelar tujuh lapis sarung. Setiap lapis ditaburi beras dan kuning uang perak sa ece (satu ketip = 10 sen).  Selain itu disimpan pula dua liku atau dua leo mama (dua bungkus bahan untuk menyirih). Maksud dan taburan beras kuning, ialah agar ibu beserta calon bayinya akan hidup bahagia dan jaya. Uang sa ece, sebagai peringatan kepada ibu bersama calon bayi, bahwa uang merupakan salah satu modal dalam kehidupan.
Diatas hamparan tembe dan kain putih, ibu yang salamaloko, tidur terlentang. Sando nggana mengoles perut ibu dengan sebiji telur, yang diminyaki dengan minyak kelapa. Diikuti secara bergilir oleh enam orang tua adat, memohon kepada Allah SWT, agar ibu bersama calon bayi selamat sejahtera.
Pada upacara ini keluarga dan tetangga baik pria maupun wanita diundang hadir untuk menyaksikan. Disaat dukun memperbaiki dan meraba-raba perut ibu hamil tersebut, saat itu pula para tamu laki-laki mengadakan do`a zikir. Ibu-ibu juga hadir untuk menyaksikan upacara salama loko /kiri loko, mereka umumnya membawa barang-barang kado/hadiah/sumbangan untuk sang ibu hamil. Kado/ hadiah/ sumbangan ini biasanya perlengkapan kebutuhan ibu dan bayi seperti baju bayi, handuk, bedak dan kadang-kadang uang tunai.
Upacara dilanjutkan dengan memandikan ibu yang salama loko. Dimandikan oleh sando nggana dengan air roa bou (air yang disimpan dalam periuk tanah yang baru). Dicampur dengan bunga cempaka dan mundu (cempaka kuning lambang kejayaan. Melati putih lambang kesucian). Waktu mandi, ibu yang salama loko menginjak telur bekas dipakai mengoles perutnya. Dengan harapan, agar melahirkan dengan mudah semudah ibu memecahkan telur. Upacara diakhiri dengan ngaha mangonco (makan rujak). Sang suami ikut pula makan mangonco bersama peserta upacara.
Sebuah kearifan lokal Bima apabila seorang istri sedang hamil adalah kedua pasangan suami istri dilarang untuk:
  1. berkata yang tidak senonoh
  2. menganiaya binatang atau manusia
  3. sedapat mungkin tidak menyembelih binatang ternak
  4. tidak berhubungan suami istri bila mendengar berita ada tetanga atau orang lain meninggal
  5. tidak membuang air besar di sembarang tempat
  6. tidak memotong sesuatu seperti kayu atau mengunting kertas. Jika terpaksa, ia harus ingat bahwa istrinya sedang hamil
  7. suami tidak diperkenankan berburu atau melakukan pekerjaan yang kurang baik seperti mengambil milik orang orang lain tanpa seijin orang yang punya dan sebaginya serta
  8. khusus istri tidak boleh tidur disaat matahari menjelang naik

2.  Upacara Cafi Sari

Upacara cafi sari dilakukan setelah bayi berumur tujuh hari. cafi sari dalam bahasa Indonesia berarti upacara menyapu lantai.  Maksud dari upacana ini, ialah menyampaikan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya karena sang ibu bersama bayi sudah lahir dengan selamat. Menurut kepercayaan tradisional pada usia tujuh hari, bayi akan memasuki kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan dalam kandungan.
Sebagai tanda terima kasih kepada sando nggana, sang ibu memberi “soji”atau sesajen yang terdiri dan kue tradisional mbojo. Seperti pangaha kahuntu,karuncupangaha bunga, pangaha sinci, ka dodo, arunggina dan kalempe. Penyerahan soji merupakan lambang harapan orang tua, agar bayinya kelak akan hidup bahagia sejahtera.
Bagi keluarga yang mampu, upacara cafi sari dilaksanakan bersamaan dengan upacara qeqa atau aqiqah. Yaitu upacara yang sesuai dengan ajaran Islam. Yang menganjurkan orang tua untuk menyembelih seekor kambing yang sehat.  Sebagai tanda syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

3.  Upacara Dore ro Boru

Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia tiga bulan. Upacara dore ro borudilakukan secara bertahap sebagai berikut:
a. Upacara boru (upacara Potong rambut bayi)
Upacara boru diawali dengan upacara doa. Memohon kepada Allah SWT. agar bayi tetap sehat walafiat. Dan apabila dewasa, akan menjadi seorang yang beriman dan gagah perkasa. Pelindung dan pembela keluarga serta dou labo dana (masyarakat -red). Setelah upacara doa, maka dilanjutkan dengan upacara boru. Bayi digendong oleh sando nggana. Tujuh orang tua adat laki-laki, secara bergilir memotong ujung rambut bayi. Potongan rambut disimpan dipingga bura (piring putih) yang berisi air dingin. Dengan harapan agar rambut bayl tumbuh subur, sebagai lambang kesuburan dan kebahagiaan hidup.
Pemotongan rambutdiiringi dengan jiki asraka (jikir asrakal). Para peserta berjikir dengan suara merdu. Melagukan syair puja puji kepada Allah, Rasul dan para sahabat.
b. Upacara Dore.
Yang dimaksud dengan upacara dore ialah, upacara menyentuhkan telapak kaki bayi pada tanah. Beberapa gumpal tanah yang diambil dihalaman masjid disimpan diatas pingga bura. Tanah itulah yang akan diinjak oleh bayi.
Acara dore, bertujuan untuk mengingatkan bayi, bahwa kelak dia akan hidup di bumi yang bersih dan subur. Bayi harus mampu memanfaatkan kekayaan bumi untuk kebahagiaan keluarga dan masyarakat. Sebab itu bayi harus menjaga keselamatan bumi atau negeri.
Bayi yang di dore ro boru, harus memakai pakaian adat upacara. Hampir sama dengan pakaian khitanan. Kalau bayi itu laki-laki, maka harus memakai kondo loi, tembe monca (sarung kuning lambang kejayaan), kawari, songko panggeta’a yang dihiasi jungge dondo. Kalau bayi itu perempuan,maka harus memakai kondo lo’i, geno atau kondo randa (kalung panjang), kawari dan bosayaitu ponto kecil. (Bosa = gelang yang lebih kecil dan ponto).
Pada jaman dulu, bagi keluarga bangsawan atau keluarga yang mampu secara finansial pada prosesi dore ini biasa diiringi oleh alunan genda silu dan dipertontonkan atraksi mpa’a Toja. Bersamaan dengan upacara dore ro boru diadakan pula upacara pemberian nama bagi bayi yang dilakukan oleh seorang ulama. Nama bayi harus mengikuti nama para Rasul dan Nabi atau nama para sahabat nabi. Dengan harapan agar mengikuti jejak para Nabi dan Rasul serta sahabat. Bagi bayi putri mengikuti nama istri Rasul dan Nabi atau nama istri-istri pejuang Islam.
Begitu kayanya tradisi lokal kita yang berkaitan dengan prosesi kelahiran manusia, penuh dengan nilai-nilai makna filosofis tentang bagaimana sejatinya manusia diciptakan dan menjadi khalifah di dunia. Teriring do’a dan harapan orang tua agar anaknya kelak menjadi insan yang berguna bagi dirinya sendiri, bangsa dan negara serta agama. Sayangnya upacara adat Bima berkaitan dengan kelahiran ini semakin jarang kita lihat. Semoga kekayaan budaya ini kan tetap lestari dan dinikmati keindahannya sampai anak cucu kita.

Silsilah Kesutanan Bima

Silsilah Kesultanan Bima
Berikut ini adalah urutan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Bima:

  1. Jan wa Mamiyan
  2. Sangyang Tunggal.
  3. Sangyang Wunang
  4. Maharaja Indra Luka
  5. Batara Indra Manis
  6. Maharaja Indra Falasyara
  7. Maharaja Tunggal Pandita.
  8. Maharaja Batara Indra Ratu Punggawa Bisa.
  9. Maharaja Pandu Devanata.
  10. Maharaja Sang Bima
  11. Maharaja Sang Aji Dharmawangsa
  12. Maharaja Sang Kang Kula
  13. Maharaja Sang Rajuna
  14. Maharaja Sang Deva
  15. Maharaja Deva Indra Zamrud
  16. Maharaja Indra Kamala I.
  17. Maharaja Deva Batara Indra Bima
  18. Maharaja Batara Sang Luka
  19. Batara Mera?
  20. Maharaja Batara Sang Bima
  21. Maharaja Batara Matra Indrawata
  22. Maharaja Matra Indra Tarata
  23. Maharaja Nggampo Java
  24. Maharaja Indra Kumala.
  25. Maharaja Batara Bima Indra Luka
  26. Maharaja Indra Sri, Maharaja of Bima.
  27. Sangaji Ma Waa Paju Longgi (14.. – 1425 M)
  28. Sangaji Ma Waa Indra Mbojo (1425 – 14..)
  29. Sangaji Ma Waa Bilmana (14.. – 14..)
  30. Sangaji Manggampo Donggo (14.. – 1500)
  31. Ruma-ta Mambora Wa‘a Pili Tuta (1500-….)
  32. Sangaji Makapiri Solo
  33. Ruma-ta Mawa‘a Andapa
  34. Ruma-ta Mawa‘a La Laba
  35. Mantau La Sadina
  36. Ruma-ta Mambora di Sapaga
  37. Ruma-ta Mambora di Bata Lambu
  38. Ruma-ta Samara
  39. Ruma-ta Mantau Asi Sarise
  40. Ruma-ta Mantau La Limandaru
  41. Mantau La Sadina Abdul Rahim (1609-….)
  42. Mambora di Sapaga (16.. – 1620 M)
  43. Paduka Sri Sultan Abdul Kahir (1620-1632 M)
  44. Ruma Mantau Asi Peka (1632–1633 M)
  45. Paduka Sri Sultan Abdul Kahir (1620-1632) dan (1633-1640 M)
  46. Paduka Sri Sultan Abdul Khair I Sirajuddin Muhammad Shah bin Sultan Abdul Kahar (1640-1682 M).
  47. Sultan Nuruddin Abu Bakar Ali Shah bin Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1682-1687 M)
  48. Sultan Jamaluddin Inayat Shah bin Sultan Nuruddin Abu Bakar Ali Shah (1687–1695 M)
  49. Sultan Hasanudin Muhammad Ali Shah bin Sultan Jamaludin (1695-1731 M)
  50. Sultan Alauddin Muhammad Shah Zillullahi fi al Alam bin Sultan Hasanudin (1731–1748 M)
  51. Sangaji Perempuan Ruma Partiga Sultanah Kamalat Shah binti Sultan Alauddin (1748-1751 M)
  52. Sultan Abdul Karim Muhammad Shah Zillullah fi al Alam bin Sultan Alauddin (1751–1773 M)
  53. Sultan Shafiuddin Abdul Hamid Muhammad Shah Zillullah fi al Alam bin Sri Nawa AbdulKarim (1773–1817 M)
  54. Sultan Ismail Muhammad Shah Zillullah fi al Alam bin Sultan Shafiuddin Abdul Hamid (1817-1854 M)
  55. Sultan Abdullah Muhammad Shah Zillullah fi al Alam bin Sultan Ismail (1854–1868 M)
  56. Sultan Abdul Aziz Zillullah fi al Alam bin almarhum Sultan Abdullah (1868–1881 M)
  57. Sultan Ibrahim Zillullah fi al Alam bin Sultan Abdullah (1881-1915 M)
  58. Sultan Muhammad Salahuddin Zillullah fi al Alam bin Sultan Ibrahim (1915–1951 M)
  59. Sultan Abdul Khair II Muhammad Shah Zillullah fi al Alam bin Sultan Muhammad Salahuddin (1951- 2001)
  60. Putra (Iskandar) Zulkarnain bin Sultan Abdul Khair II Muhammad Shah (Dr. Ferry Zulkarnaen) (2001-2016).
  61. Sultan Dr. Ferry Zulkarnaen bin Abdul Khair II Muhammad Shah (Muhammad Putera Ferryandi) (2016-sekarang)

Arti Lambang Kesultanan Bima

Bentuk : Gambar Garuda yang menoleh ke kanan dan ke kiri di atas perisai
Warna
  1. Warna dasar kuning berarti bersih.
  2. Warna Garuda biru berarti setia.
  3. Warna perisai merah berarti berani.

Burung Garuda
Gambar Garuda berkepala dua yang melambangkan menoleh ke kanan dan ke kiri, suatu pernyataan bahwa dasar pemerintahan Kerajaan Bima berasaskan Hukum  Adat dan Hukum Islam berkedudukan sama dan seimbang.

    Sayap kiri lambang Hukum Hadat.a.  Bagian luar bulu 7 helai, Majelis Tureli :
  1. Tureli Nggampo.
  2. Tureli Bolo.
  3. Tureli Woha.
  4. Tureli Belo.
  5. Tureli Sakuru.
  6. Tureli Parado.
  7. Tureli Donggo.
b.  Bagian dalam bulu 5 helai, Daerah Ncuhi.
  1. Ncuhi Dara – wilayah tengah – pusat.
  2. Ncuhi Banggapupa – wilayah timur.
  3. Ncuhi Dorowoni – wilayah utara.
  4. Ncuhi Padolo – wilayah barat.
  5. Ncuhi Parewa – wilayah selatan.

    Sayap kanan melambangkan Hukum Islam.
a.  Bagian luar bulu 7 helai : Ilmu Fikih 7 macam
b.  Bagian dalam 5 helai
  1. Ilmu Tauhid ( 3 ).
  2. Ilmu Tassauf ( 2 )  
 Kerajaan Bima menganut faham ahli sunnah wal jama’ah yang dikenal dengan “Ilmu Dua Belas”

     Ekor.
  1. Bagian kiri bulu 4 helai melambangkan pola masyarakat yakni Sultan ( Raja ), kelompok bangsawan ( Tureli ), Juru ( Dari ) dan rakyat biasa (Ada ro Ela).
  2. Bagian kanan bulu 4 helai melmbangkan pelaksanaan harian Hukum Islam : Khatib Tua, Khatib Karoto, Khatib Lawili dan Khatib Toi. ( Tua – kepala ; karoto = tenggorokan = leher ; lawili dada ; toi = kecil ).
  3. Bagian tengah bulu 2 helai melambangkan Ketua dan Wakil Ketua Hadat.
Tubuh Garuda.
Melambangkan Sultan / Raja sebagai pemimpin tertinggi Hadat merangkap sebagai Qadi / Imam. Tubuh Garuda bulu 35 helai himpunan dari :
  1. Bulu sayap kiri kanan 2 x 12 helai = 24 helai.
  2. Bulu ekor kiri, kanan dan tengah 2 x 4 helai + 2 helai ..... = 10 helai.
  3. Tubuh Garuda ......... = 1 helai.
Himpunan bulu Garuda 35 helai melambangkan keterpaduan antar unsur sara ( Umara ) dan unsur Islam ( Ulama ) yang menjelma menjadi “Sara Dana Mbojo”. Semua dirangkul menjadi satu, diperhatikan sama dan seimbang dalam mengemban pemerintahan kerajaan yang dilambangkan dengan Garuda menoleh ke kanan dan ke kiri ; dilaksanakan dengan ketulusan hati, kebersihan niat dan tujuan yang sama dilambangkan dengan Garuda berwarna biru yang didukung oleh keberanian  dan dijamin keamanannya yang dilambangkan  perisai berwarna merah. Hukum Hadat dan Hukum Islam berpadu dan berbaur menjadi satu sebgai kesepakatan guna menjapai kesejahteraan kerajaan dan rakyat. Dengan cita-cita dan tujuan itulah maka Sultan Bima dipersonifikasikan dengan “Howo Ro Ninu”.


Sumber : Sejarah Bima Dana Mbojo, Alm. H. Abdullah Tajib, BA

Rabu, 27 Agustus 2014

Ajaran Animisme dan Dinamisme Pada Masyarakat Desa Simpasai



A.     Munculya Ajaran Animisme dan Dinamisme Pada Masyarakat  Desa  Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima
    Eksitensis munculnya ajaran animisme dan dinamisme adalah kurangnya pengetahuan atau kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat Desa Simpasai dalam hal keyakinan dan keperyaan tentang agama Islam. Walaupun pada hakekatnya, agama Islam adalah agama yang pertama kali ada dalam kehidupan manusia. Nabi Adam adalah manusia pertama yang menganut agama Islam. Tetapi kepercayaan animisme dan dinamisme tidak lain adalah bentuk penyelewengan ajaran Allah. Namun bagaimanapun juga, penyebaran agama Islam di nusantara memang tidak bisa dipungkiri bahwa akan adanya kontradiksi antara ajaran yang agung dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. (R. Rudi, 1994: 24).
      Begitu pula dengan masyarakat Desa Simpasai dari zaman (naka) sampai zaman modern sekarang. Sebelum mereka mengenal agama Islam sampai mereka memeluk agama Islam secara sempurna mereka masih percaya pada hal-hal yang gaib ( mistik ). Memang pada dasarnya “ orang Bima (dou mbojo) asli adalah orang pegunugan (dou doro) atau disebut juga orang awam, sedangkan orang pesisir adalah pendatang ”. Pada hal tersebut juga menyatakan bahwa orang Bima ( dou mbojo ) percaya kepada ncuhi yang berasal dari makamba-makimbi (mistik). Kemudian percaya dengan adanya ”marafu” yang merupakan simbolis ketuhanan yang bisa datang melalui batu, pohon, gunung serta kuburan kramat. Sehingga munculah kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme.
Hal ini juga di kemukakan oleh bapak H. Murtalib dan H. Firdaus yang menyatakan bahwa:
Munculnya ajaran animisme dan dinamisme berawal dari ajaran turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Menurut masayarakat Desa Simpasai bahwa  ajaran animisme dan dinamisme adalah kepercayaan yang harus di ikuti oleh setiap masyarakat. Bagi masyarakat Desa Simpasai menghargai arwah leluhur adalah suatu kewajiban dan penghormatan bagi setiap orang yang mempercayainya. Menurut keyakinan mereka, alam beserta isinya diciptakan oleh yang maha kuasa,yang disebut marafu atau Tuhan.(15 Agustus 2011).

berdasarkan peryataan diatas bahwa yang melatar belakangi munculnya ajaran animisme dan dinamisme adalah  ajaran turun temurun dari nenek moyang terdahulu yang harus di laksanakan oleh masyarakat Bima pada umumnya dan khusussnya masyarakat Desa Simpasai.
C. Keberadaa Ajaran Animisme Dan Dinamisme Serta Bentuk Dan Jenis Yang Masih Berkembang Pada Masyarakat Desa Simpasai
               Keberadaan ajaran animisme dan dinamisme tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah di ketahui bersama bahwa agama hindu dan budha telah hadir lebih awal dalam peradaban nusantara. Masyarakat telah mengenal kedua agama budha dan hindu dari pada agama Islam. Namun, sebelumnya ada periode khusus yang berada dengan agama hindu-budha. Masa itu adalah masa pra-sejarah. Zaman ini disebut sebagai zaman yang belum mengenal tulisan. Pada saat itu,  masyarakat sekitar hanya menggunakan bahasa insyarat sebagai alat komunikasi. Di zaman itulah, masyarakat belum mengenal agama. Mereka belum mengerti tentang baik dan buruk. Mereka juga belum mengerti tentang aturan hidup karena tidak ada kitab suci dan undang-undang yang menuntun kehidupan mereka. Tidak ada yang istimewa pada zaman ini kecuali kepercayaan primitif mereka tentang animisme dan dinamisme. (M. Hilir Ismail 2006: 2-3).
          Peryataan diatas senada dengan pendapat H.Murtalib H. Firdaus yang menyatakan bahwa:
     Keberadaan ajaran animisme dan dinamisme pada masyarakat Desa Simpasai      sekarang  masih dilaksakan oleh sebagian besar masyarakat Desa Simpasai, karna pada dasarnya keberadaan ajaran animisme dan dinamisme dari zaman naka sampai jaman modern sekarang sudah ada dalam kehidupan masayarakat Bima pada umumnya dan pada khususnya masyarakat Desa Simpasai, disamping itu pula keberadaan ajaran animisme dan dinamisme sudah menjadi sesuatu yang melekat dan bahkan sudah melebar luar  dalam kehidupan  masyarakat Desa Simpasai. (16 Agustus 2011).

     Adapun bentuk dan jenis animisme dan dinamisme yang masih berkembang pada masyarakat Desa Simpsai adalah sebagai berikut dinamisme adalah:
1.      Bentuk animisme dan sebagi berikut :
-          Pisang                        : Kalo
-          Beras Kuning             : Bongi Monca
-          Nasi Warna                 : Oha Warna
-          Daun Sirih                   : Nahi
-          Rokok                         : Rongko
-          Ayam Kampung          :  Janga Rasa
-          Pinang                         : U’a
-          Ayam Bakar                 : Janga Puru
-          Kue Campuran              : pangaha Soji
              Berdasarkan uraian diatas bahwa terdapat beberapa bentuk yang  animisme dan dinamisme yang dipergunakan oleh masyarakat Desa Simpasai dalam melakukan aktifitasnya di dalam menghormati para leluhur atau   marafu”  yang disebut ( Sesajen).
            Pernyataan di atas senada dengan pendapat HJ. Sa’adiah yang menyatakan bahwa untuk melakukan setiap kali melakukan suatu permohon terhadap   marafu harus menbawa beberapa makanan yang disukai oleh nenek moyang terdahulu, semua itu dilakukan agar permintaan mereka dikabulkan. Apabila diantara persaratan itu tidak dibawa maka permintaannya tidak dikabulkan oleh marafu. (17 Agustus 1011 ).

2.      Ciri-ciri animisme dan dinamisme adalah sebagai berikut :
-          Kuburan Kramat            : Rade karama
-          Batu Besar                     : Wadu na’e
-          Pohon Asam                  : Fu’u mange
-          Telaga Nuri                   : Talaga Nuri    
Berdasarkan peryataan diatas bahwa keberadaaan ajaran animisme dan dinamisme pada masyarakat Desa Simpasai masih dilaksakan oleh sebagian masyarakat, namun meskipun mereka melakukan pemujaannya mereka tetap melaksakan ibadah 5 kali sehari semalam.


a)    Keberadaan animisme
         Animisme adalah kepercayaan terhadap mahluk halus dan roh, keyakinan ini banyak dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu. Paham animisme mempercayai bahwa benda yang ada di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tindak menganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini.
         Kepercayaan animisme didapati dari pengaruh bangsa lain yang menjalin interaksi dengan mereka. Ada yang menyataklan bahwa kepercayaan ini berasal dari ajaran Taotisme yang lahir di kawasan Tiogkok. Ada juga yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal istilah Dewa, roh jahat dan roh baik, dan kesaktian atau kekuatan luar biasa. Misalnya, mereka sudah percaya pada kekuatan matahari dan buklan atau disebut dengan kepercayaan pada Adityachandra.
        Tidak hanya itu, masyarakat awal Indonesia   juga sudah mengenal tentang bagaiamana cara menghormati orang yang sudah mati. Kepercayaan bahwa manusia yang hidup masih menjalin komukasi dengan para leluhur mereka yang sudah mati. Untuk itulah, mereka melakukan ritual-ritual tertentu dalam enghormati arwah para leluhur dan menjauhkan didi dari roh jahat. Matahari dianggap sebagai dewa, bulan diyakini sebagai dewi, langit dianggap sebagai kerajaan, bumi beserta isisnya disebut sebagai pekindung atau pengawal manusia.
        Jika ditelusuri lebih dalam lagi kepercayaan semacam ini tidak hanya berkebang diberbagai Negara saja, akan tetapi di Indonesia khususnya di Kabupaten Bima bertempat di Desa Simpasai Kecamatan Lambu. Keberadaan animisme dikalangan masyarakat Simpasai masih ada, kkarna masyarakat masih percaya terhadap kekuatan-kekuatan yag berbau mistik, dan mereka menganggap bahwa kekuatan yang ada di dunia ini memiliki roh dan jiwa, dan jiwa tersebut di anggap oleh msyarakat adalah arwah nenek moyang dan keluarngannya yuang telah tiada. Di samping itu pula mereka mengaggap bahwa kekuatan arwah tersebut dapat memberikan kesejahteraan terhadap orang yang mempercayainnya, kalau diantara mereka ada tidak percaya terhadap arwah leluhur, maka akan berakibat pada dirinya dan kekuarganya dan bahkan terhadap anak cucunya kelak.
         Mempercayai dengan adanya arwah leluhur adalah  kebiasaan masyarakat Simpasai dari zaman Naka sampai zaman modern sekarang masih dilaksakan oleh sebagian masyarakat Simpasai kaarna menurut mereka m,enghargai arwah leluhur suatu kewajiban yuang harus dilaksanakan, sebab pada saat itu mereka sangat menjunjung tinggi nilai “maja labo dahu” dalam bahasa Indonesianya adalah “malu dan takut”. Maksud “malu dan takut ini adalah mereka harus bias bembawa dirinya dengan lingkungan sekitarnya dan bias membedakan antara hak miliknya dan hak orang lain serta saling menghargai antara  satu dengan yang lainnya. Simbol ini kemudian  diwariskan oleh masyarakat kepada generasi penerus agar apa yang menjadi tradisi dan kebiasaan maasyarakat dulu harus di ikuti pula oleh masyarakat sekarang baik kebudayaan maupun kepercayaan kalau semua itu sudah dilakukan oleh masyarakat maka, kesejahteraan, dan kedamaian akan selalu, menyertai mereka.
          Kepercayaan masyarakat terhadap arwah nenek moyang sudah mendara daging dalam kehidupan mereka dan kaloborasi antara agama wahyu dengan kebiasaan masyarakat setara, meskipun mereka sudah memeluk agama Islam secara sempurna, namun masih banyak dari sekian dari mereka yang masih banyak yang mempercayai terhadap arwah nenek moyang, mereka menganggap bahwa arwah leluhur bias dating kapan saja dalam bentuk apa saja. Keberadaan animisme adalah kepercayaan hasil dari turun temurun yang sampai sekarang sulit untuk dipisahkan dari masyarakat pribumi sekalipun mereka sudah memeluk agama Islam.
          Dari peryataan di atas  menyatan bahwa keberadaan kederadaan animisme pasa masyarakat Simpasai masih ada, karna mereka masih percaya terhadap roh dan jwa. Mereka menganggap bahwa roh dan jiwa tersebut adalah arwah nenek moyang, bagi mereka nenek moyang sosok yang harus di semah dan di puji keberadaannya, karna bagi yang menjalankannya akan diberikan sesuatu terkait apa yang di minta.
b)   Bentuk Dan Wujud Animisme
1.    Bentuk Animisme adalah mereka masih percaya terhadap arwah atau roh, bagi mereka roh itu  bukan hanya menempati mahluk hidup tetapi juga benda-benda mati, sehingga roh itu terdapat daklam batu-batuan, pohon-pohon besar, tombak, kepala manusia yang di bumi. Dengan adanya kepercayaan terhadap mahluk dan roh maka timbullah pemujaan pada roh-roh nenek moyang, yang dipuja biasanya membalas kebaikan dan ada juga yang dipuja gar roh itu tidak mengaggu, terhindar dari kemarahan roh/hantu biasanya diadakan penguburan hewan/manusia hidup-hidup atau diambil kepalanya dan dilempar ke dalam gunung manakala sebuah gunung meletus mereka beranggapan bahwa jika ada bencana alam  berarti roh-roh alam sedang marah. Selain itu, mereka menyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang maha tinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia.
  Lalu pemujaan orang semacam ini lalau berkembang menjadi pengembahan roh-roh. Roh orang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai mahluk kuat yang menentukan, segala kehendak serta kemauan yang harus dilayani. Dan mereka juga beraggapan bahwa roh tersebut juga dapat merasuk kedalam benda-benda tertentu. Roh  yang masuk ke dalam benda tersebut akan mengebabkan kesaktian. Maka dari itu masyarakat mengembah kepada roh-roh tersebut supaya selamat dari bahaya.
2.    Wujud animisme
             Adapun wujud dari animisme adalah sebagai berikut :
a.       “Toho ra dore” artinya “tunduk dan patut” dimana toho r adore ini adalah wujud kepercayaan masyarakat Simpasai terdahap arwah leluhur dan sebagai wujud persyaratan agar apa yang menjadi keinginaan mereka bias tercapai dan dijadikan pula sebagai wujud dari rasa syukur terhadap apa yang mereka peroleh sampai sekarang masih masih silaksanakan oleh sebagian masyarakat Simpasai, yang menurut pengamat peneliti bahwa “toho ra dore” ini dilakukan oleh masyarakat pada saat tertentu, misalnya pada malam senin dan jum’at, menurut mereka  malam jum’at dan malam senin adalah waktu yang tepat untuk melakukan aktifitasnya dalam menghargai arwah leluhur selain itu arwah biasa datang menghampiri masayarakat.
Di samping itu pula ”toho r adore” bagi masyarakat Simpasai adalah  suatu kewajiban yang akan selalu dilaksanakan dan percayai oleh orang yang mempercayainya, sebab kalau masyarakat tidak melaksanakannya maka celaka bagi orang tersebut karna arwah nenek akan mengamuk dan marah, selain itu agar apa yang mmenjadi keinginan bisa tercapai, dan diberikan kemudahan dalam menghadapi persoalan hidup.
b.      “ doho ra dana”  diartikan pula sebagai “duduk bersama-sama” doho ra dana ini adalah wujud keppercayaan masyarakat terhadap arwah leluhur, masyaraakat pada saat tertentu mereka mempunyai tujuan serta keiginan disaat mereka melakukan “doho ra dana” ini, dimana ketika mereka mengalami gagal panen atau terkena musibah, maka jalan yang paling utama yang dilakukan oleh mereka adalam melakukan “toho r a dore” ini, bagi mereka “toho ra dore” ini adalah wujud permintaan maaf mereka terhadap arwah nenek moyang, supaya kegagalan panen yang mereka alami diakibatkan karna kemarau pajang, itu semua bisa berawal dari kemurkaan nenek moyang bisa berakhir. Dan musibah yang dialami pula oleh orang kampung yang mengalami sakit-sakitan dalam satu keluarga bisa sembuh dan normal kembali.
 Maka dari itu masayarakat Simpasai melakukan “toho ra dore” ini pada saat tertentu, agar apa yang menjadi tujuaan mereka bisa terpenuhi dan tercapai serta arwah tidak marah, selain itu juga mereka melakukan “toho r adore “ karna bentuk rasa perduli masyarakat terhadap nilai “maja labo dahu” simbol inilah yang kemudian dijadikan tolak ukur masyaratat dalam menjalankan kepercayaannya terhadap arwah leluhur.
c)      Bentuk Ritual Animisme
         Benntuk ritual animisme pada mayarakat Simpasai adalah mereaka masih mempertahankan beberapa macam upacara atau ritual yang masih mmurni berkaitan dengan animisme atau telah mengalami perbauran dengan Islam. Salah satu contohnya adalah upacara kelahiran dan kematian dengann ritual-ritual berbeda. Tapi yang paling menonjol  pada masyarakat Simpasai adalah pada saat “wanita hamil” dalam bahasa Bimanya “na’e loko”, dalam kalagan masyarakat Simpasai, keberadaan wanita hamil teryata akan menimbulkan datang nya roh jahat yang akan menganggu ibu hamil ini, oleh karena itu masyarakat Simpasai mempunyai cara tersediri untuk mengusir para roh-roh jahat itu dengan mengunakan kalung yang terbuat dari ayat-ayat suci serta sudah dibacakannya matra-matra, maka dengan kalung ini roh jahat itu tidak menganggu ibu hamil tadi.
         Selain itu ketika kehamilan perempuan ini mencapai 7 bulan maka di adalakanlah upacara yang sering disebut oleh mereka adalah “kiri loko” yang artinya “memperbaiki bentuk perut” cara yang mereka lakukan terhadap iu hamil ini adalah, memakaikan kain putih tampa ada alasnya di tubuh ibu hamil tadi, disiapkannya bunga tujuh rupa di dalam ember dan disiramlah ibu hamil tersebut. mereka melakukan ritual “kiri loko”ini agar mereka bisa tau anak pempuan atau laki-laki yang akan keluar nanti selain itu agar mendidik si bayi supaya kelak dia tidak akan menjadi anak yang bandel dan terhidar dari perbuatan  tercela serta tunduk dan patuh terhadap orang tua keluarga dan sahabatnya dan agar bentuk fisiknya sempurna, dan setelah bayi itu lahir maka ari-ari harus di kuburkan di dalam  lingkungan rumahnya, supaya bayi itu tidak rewel, bandel dan selalu sabar serta patuh terhadap ibu/bapaknya.
          Tentang ritual kematian, kematian dalam adat masyarakat Simpasai sampai sekarang masih dilaksanakan seperti, apabila ada kematian dalam sebuah keluarga, maka semua kain-kain yang menyelimuti mayat tadi disimpan pada suatu tempat. Kain-kain ini disebut pula “kani ra lombo” adalah sisa baju yang dipakai oleh almarhum/almarhuma, biasanya disimpan di atas tempat tidur untuk selama empat ppulu hari. Setelah selsai upacara penguburan selsai dilaksanakan, mulai malam pertama sampai malam ketiga diadakan “tahali” atau (tahlil).
         Bentuk dari ritual orang yang melahirkan tadi bermaksud agar anak itu kelak dia remaja sampai dia dewasa selalu patuh dan tunduk terhadap orang tua dan orang lain serta dia tidak berbuat maksiat dan selalu mengikuti tradisi dengan ajaran yang sudah ditetapakan sejak dia lahir. Dan tentang kematian agar awah si mayit tersebut  tenang, serta mendapatkan tempat yang mulia disisi sang khaliq. Dan apabila sisa bajunya tidak disimpan di atas tempat tidur, maka arwah si mayit itu akan datang menghantui semua keluarganya.

DESA SANDUE KABUPATEN BIMA



DESA SANDUE KABUPATEN BIMA

A.   Keadaan Geografis Wilayah Desa Sandue
Desa sandue memiliki masyarakat sebanyak kurang lebih 100 KK dengan letak geografis sebelah barat dari laut kabupaten bima
1.    Letak dan Luas
Desa Sandue terletak di bagian barat Kabupaten Bima dengan jarak 10 Km dari kota. Luas Desa Sandue ± 14,753 Km2.
Secara administrasi Desa Sandue terbagi dalam 4 Dusun yaitu : Dusun Kore, Dusun Jala, Dusun Pali 1, Dusun Pali 2 dan Dusun Tenggerengge dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Dompu
b.    Sebebelah timur berbatasan dengan Desa Kore
c.    Sebebelah selatan berbatasan dengan Desa Boro
d.    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Taloko
Berdasarkan data dari kantor Desa Sandue luas masing-masing dusun terlihat pada tabe sebagai berikut:
Tabel Persentase Luas Setiap Dusun di Desa Sandue
No
Nama Dusun
Luas (Km2)
Persentase (%)
1
Dusun Jala
0,70
6,7
2
Dusun Pali 1
            0,68
6,68
3
Dusun Pali 2
0,69
6,69
4
Dusun Tenggerengge
0,71
6,71

Jumlah
20,78
100,00
Sumber : Data kantor Desa Sandue 2013

2.    Topografi
Desa Sandue mempunyai topografi yang bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Desa Sandue berada pada ketinggian 50-100 meter di atas permukaan laut serta memiliki kemiringan lereng sebesar 15 %.
Berdasarkan peta tanah Tinjau Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bersumber dari Lembaga Penelitian Tanah (LPT) Bogor, (1967) dan data hasil risalah hutan di lapangan maka jenis tanah yang terdapat di Desa Sandue adalah jenis mediteran merah kuning dan regosol. Penyebaran jenis tanah ini pada bagian utara dan timur serta kelompok hutan dengan topografi berbukit sampai bergunung. Jenis tekstur tanahnya lempung berpasir.
3.    Iklim
Tipe iklim di daerah tersebut, dengan menggunakan kriteria Smith dan Fergusson. Untuk menentukan tipe iklim suatu lokasi atau daerah, pertama-tama dengan menentukan rata-rata jumlah Bulan Basah (BB), Bulan Kering (BK), Bulan Lembab (BL) dapat setiap tahun dengan tipe Iklim
1.    Bulan Kering (BK) berkisar antara bulan Januari s/d Mei
2.    Bulan Lembab (BL) berkisar antara bulan Juni s/d Agustus
3.    Bulan Basah (BB) berkisar antara bulan September s/d Desember
Desa sandue merupakan daerah pesisiran pantai dan daerah pegunungan, walaupun mereka berada di daerah pegunungan, masyarakat disektitar susah memperoleh air payau untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, dikarenakan masyarakat melakukan kegiatan sistem perladang berpindah. Berbagai cara pemboran dilakukan oleh pihak pemerintah dan kerja sama dengan masyarakat sekitar umtuk memperoleh sumber air yang memadai, itu merupakan hal rumit bagi mereka, dikarenakan pemerintah setempat hanya mampu menyediakan serta menggunakan alat pemboran yang sederhana dengan kedalaman pemboran tanah tidak mencapai sumber mata air bersih, yang di dapat cuma air Asin saja. Berdasarkan kesulitan yang di alami oleh masyarakat setempat, pemerintah berjanji akan mendatangkan alat pemboran yang canggih  dari kanada, sambil menunggu alat tersebut PDAM PEMDA Kabupaten Bima menyediakan satu bak pusat yang berisi 2.200 Liter air bersih dan dua kamar mandi lengkap dengan WC umum yang berukuran 2x3 meter untuk berbagai keperluan bagi warga setempat. Bak Air tersebut berada di cabang jala samping Kantor Kepala desa Sandue.
Walaupun sumber air bersih agak jauh dari permukiman warga, mereka sangat antusias untuk pergi mengambilnya, untuk mempermudah pengambilan air, masyarakat tersebut menggunakan Cerget yang mampu menampung air sebanyak ± 20 liter dan jasa sepeda motor untuk mengangkutnya, satu kali angkut mereka bisa membawa air bersih kerumahnya sebanyak tiga Cerget, dan masyarakat yang ingin mandi mereka harus bersabar dan membudayakan sifat antrian untuk memakai kamar mandi yang terbatas. Berikut hasil wawancara dengan kepala dusun setempat :
Pewawancara : Apa harapan bapak terhada PEMDA mengingat sumber air yang agak jauh dari rumah Bapak,,,?
Kepala Dusun : Saya dan warga berharap agar PDAM PEMDA Kabupaten Bima Menepati Janjinya untuk mendatangkan Alat pemboran dari Kanada itu, supaya kami tidak kesulitan lagi  memperoleh air bersih.

B.   Mata pencaharian masyarakat desa sandue
Mayoritas masyarakat desa sandue bermata pencaharian sebagai Nelayan, Budidaya Ikan Bandeng dan Sistem ladang berpindang, dikarenakan letak pemukiman atau georgrafis dari masyarakat desa sandue berada di antara pegunungan dan lautan lepas yang menghubungkan dengan pelabuhan bima nusa tenggara barat, selain mata pencaharian tersebut masyarakat memiliki kegiatan lain yang bisa menghasilkan uang seperti kerajinan tangan berupa alat menumbuk yang terbuat dari batu alam, hasil dari kerajinan tangan tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang berkisar antara 25-50 ribu perbiji, berdasarkan hasil wawancara saya dengan salah satu KK Pengrajin Alat Penumbuk Bahan Makanan (COBE) tersebut yang merupakan Kepala Dusun Jala Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat, mereka bisa menghasilkan alat penumbuk sebanyak 5-6 setiap harinya di waktu luang mereka sambil menunggu Ikan Bandeng Siap di panen serta waktu untuk melaut
Adapun beberapa sumber pencaharian pokok yang ada di Masyarakat Desa Sandue sebagai berikut :
1.    Sebagai warga Sipil yang memiliki penghasilan tetap
2.    Sebagai Nelayan
3.    Budidaya Ikan Bandeng
4.    Pedagang (Wira Swasta)
5.    Sistem Ladang Berpindah
Adapun beberapa sumber pencaharian sampingan berupa kerajinan tangan yang ada di Masyarakat Desa Sandue sebagai berikut :
1.    Kerajinan Alat Menumbuk Bahan Makanan (COBE)
2.    Kerajinan mebel (TUKA KAYU)
3.    Kerajinan batu bata (TUKA BATU)


Postingan Lama Beranda